Wys tans plasings met die etiket Sepak Bola. Wys alle plasings
Wys tans plasings met die etiket Sepak Bola. Wys alle plasings

Dinsdag 30 April 2013

Prediksi Skor Real Madrid vs Borussia Dortmund

Leg Kedua semi-final Liga Champions Real Madrid vs Borussia Dortmund 1 Mei 2013 SCTV (01:30 WIB) Disini Admin Sajikan Head To Head, 5 Pertandingan Terakhir dan Prediksi Skor Bola ke2 Tim. Simak Ulasan Pertandingan Dua Tim Ini.
Head To Head Real Madrid vs Borussia Dortmund :

  1. 25 Apr 2013 Borussia Dortmund 4 – Real Madrid 1
  2. 07 Nov 2012 Real Madrid 2 – Borussia Dortmund 2
  3. 25 Okt 2012 Borussia Dortmund 2 – Real Madrid 1
  4. 20 Agu 2009 Borussia Dortmund 0 – Real Madrid 5

Lima Laga Terakhir Pertandingan Real Madrid :

  1. 25 Apr 2013 Borussia Dortmund 4 – Real Madrid 1
  2. 20 Apr 2013 Real Madrid 3 – Real Betis 1
  3. 15 Apr 2013 Athletic Bilbao 0 – Real Madrid 3
  4. 10 Apr 2013 Galatasaray 3 – Real Madrid 2
  5. 06 Apr 2013 Real Madrid 5 – Levante UD 1

Lima Laga Terakhir Pertandingan Borussia Dortmund :

  1. 25 Apr 2013 Borussia Dortmund 4 – Real Madrid 1
  2. 20 Apr 2013 Borussia Dortmund 2 – FSV Mainz 0
  3. 13 Apr 2013 Greuther Fürth 1 – Borussia Dortmund 6
  4. 10 Apr 2013 Borussia Dortmund 3 – Málaga 2
  5. 06 Apr 2013 Borussia Dortmund 4 – FC Augsburg 2

Prediksinya Susunan Pemain Untuk Ke2 Tim Ini :
Real Madrid : Lopez, Arbeloa, Varane, Ramos, Coentrao; Alonso, Khedira, Di María, Modric, Ronaldo; Benzema.
Borussia Dortmund : Weidenfeller, Piszczek, Subotic, Santana, Schmelzer, Gündogan, Sahin, Blaszczykowski, Götze, Reus, Lewandowski.

Prediksi Skor dini hari nanti Read Madrid 2 : 0 Borussia Dortmund

Donderdag 25 April 2013

Mafia Pengaturan Skor Sepakbola

Gegap gempita ajang sepak bola bermerk Liga Champions, Liga Europa dan Piala Dunia telah menghibur masyarakat dunia sebagai manifestasi dari ungkapan mendasar bahwa setiap manusia berciri "manusia yang bermain" (homo ludens).
Di balik "yang asyik" dari tayangan bola ternyata ada badai heboh yang didalangi oleh kelompok mafia pengaturan skor.

Beberapa waktu lalu, sebanyak 680 pertandingan bola dalam ajang penyisihan Piala Dunia dan laga Liga Champions dalam kurun antara 2008 dan 2012 terindikasi terkena virus bernama skandal pengaturan skor berskala global.

Adakah memang sepak bola internasional demikian bobrok karena terimbas oleh campur tangan mereka yang ingin meraup keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa menghiraukan nilai fair play yang merupakan jiwa dari setiap laga sepak bola?

Kerusakan akibat skandal pengaturan skor demikian serius mengancam nilai sportivitas sampai-sampai Interpol bersama lembaga kepolisian Uni Eropa (Europol) menghimpun kekuatan untuk menelisik dan menginvestigasi 380 pertandingan yang dihelat di Eropa dan 300 laga yang digelar di luar Eropa.

Pengaturan skor sepak bola menggenapi pepatah "di mana ada madu, di situ ada lebah". Sepak bola bagaikan madu, dan mereka yang berkomplot dalam pengaturan skor bagaikan lebah.

Tak heran bila Direktur Europol Rob Wainwright mengatakan lembaganya sedang mengidentifikasi sekitar 425 orang dari kalangan pejabat, pemain sampai pelaku kriminalitas yang terindikasi melakukan aksi pengaturan skor pertandingan bola.

Para investigator menyatakan aksi pengaturan skor laga bola oleh jaringan mafia itu punya beking berupa kartel di Singapura.

Dana yang terhimpun di sana ditaksir sebanyak 8 juta euro termasuk keuntungan dari hasil suap yang mencapai hampir 2,5 juta dolar Singapura.

Polisi Jerman melukiskan bahwa jaringan kurir pengaturan skor bola telah menggurita di seluruh dunia. Mereka menyuap para pemain dan wasit dengan jumlah uang sogokan bisa mencapai 180.000 dolar Singapura.

Mereka yang terhimpun dalam jaringan mafia itu memanfaatkan jaringan internet atau saluran telpon untuk berhubungan  dengan sejumlah bandar yang berkedudukan di Asia.

Aksi para bandar itu memenuhi fatsun klasik, bahwa bertambahnya cinta akan uang, sebesar itu pula napsu untuk mengeruk uang (crescit amor nummi, quantum ipsa pecunia crevit). Di mana uangmu, di situ hatimu berada.

Komentator dari BBC, Phil Parry menyatakan merebaknya pengaturan skor sepak bola ikut menumbuhsuburkan korupsi di beberapa negara. "Saya berpendapat bahwa masyarakat akan sejenak tercengang ketika mereka mengatahui skala dari jaringan itu," katanya.

Skandal pengaturan skor pertandingan merusak sendi-sendi integritas dalam olah raga, khususnya dalam sepak bola. "Masyarakat mulai menaruh keraguan akan integritas olah raga, mereka tidak akan mempercayai lagi hasil pertandingan," katanya.

Pengamat bola asal Jerman, Rafael Buschmann menulis dalam majalah Der Spiegel bahwa pengaturan skor pertandingan yang terjadi di Eropa menunjukkan kiprah UEFA dan FIFA boleh jadi  mengalami kegagalan, seiring usaha untuk mengungkap dalang beserta antek-anteknya dalam aksi itu.

Pada Februari 2011, dari sebuah dokumen lembaga pengadilan di Finlandia terungkap bahwa seorang warganegara Singapura bernama Wilson Raj Perumal telah bertemu dengan para wasit dan pejabat pertandingan untuk mengatur skor dua laga persahabatan berskala internasional.

Menurut dokumen pengadilan itu, ia kemudian menyuap enam wasit agar "mengamankan" hasil laga sesuai kemauan para bandar bola. Ini jelas aksi mafia pengatur skor bola.

Aksi Perumal memakan korban. Dua pertandingan, masing-masing laga timnas Bolivia melawan Latvia yang berakhir 2-1, dan laga antara Estonia kontra Bulgaria yang berujung skor imbang 2-2, terindikasi terkena ranjau pengaturan skor.

"Kami semua merasa terkejut, " kata mantan pemain timnas Jerman Lothar Matthaeus yang waktu itu menjadi pelatih timnas Bulgaria. "Kami sudah mengetahui bahwa ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi, meski saya tidak langsung menunjuk telah terjadi manipulasi," katanya pula.

Perumal akhirnya dicokok di Finlandia tidak lama setelah digelar sejumlah pertandingan. Ia memenuhi ungkapan dari pujangga Seneca bahwa "yang memperoleh imbalan dari sebuah kejahatan adalah dia yang melakukannya" (cui prodest scelus, is fecit).

Berbekal informasi dari Perumal itulah, para investigator mengungkap tali-temali dari skandal pengaturan skor berskala global. Europol mencatat, sepak bola Eropa menghadapi mafia pengaturan skor, utamanya yang berpusat di Asia.

Ketua FIFA Sepp Blatter bereaksi dengan berkata, sepak bola global tidak memberi toleransi apa pun dengan segala bentuk manipulasi skor pertandingan.

Perlu ditemukan dan dilakukan "sistem pengawasan dini" agar perilaku mafia skor laga tidak merusak sportivitas sepak bola. Perlu juga ditemukan pola-pola sistematis dari aksi judi bola agar aksi mafia pengatur skor tidak menjadi-jadi.

Pejabat penyelidik asal Jerman yang juga menjadi ahli dalam menyelidiki skandal-skandal judi olah raga, Friedhelm Althans menunjuk bahwa segala aturan yang mencegah skandal pengaturan skor tidak berdaya menghadapi aksi mafia itu.

Dalam sebuah jumpa pers, ia menyatakan, sistem pengawasan dini yang diberlakukan oleh FIFA dan UEFA "masih jauh dari kisah sukses".

Dua organisasi sepak bola itu mengandalkan sistem perangkat lunak yang dirancang untuk menjejak aksi skandal pengaturan skor di seluruh dunia, meski efektivitas perangkat itu tidak seluruhnya membuahkan hasil maksimal.

Mantan petugas UEFA yang merancang perangkat sistem itu mengatakan sistem pengawasan dini itu berfungsi ketika seseorang tengah melakukan pangaturan skor pertandingan, dan merekam jumlah uang yang relatif besar yang digunakan dalam aksi judi bola.

Sistem itu kedapatan "tidak berfungsi" alias melempem ketika menjejak jumlah uang yang relatif kecil di berbagai aksi taruhan judi bola.

"Mereka mengenali rumah-rumah judi bola di Eropa, umumnya perusahaan itu semi-ilegal dan ilegal yang berkedudukan di Asia," kata mantan petugas di UEFA.

Dua perusahaan yang bergerak dalam aksi taruhan kemudian ditertibkan. Ante Sapina dan Marijo Cvrtak telah dijatuhi hukuman di Jerman selama lima tahun karena keduanya menjadi dedengkot dari aksi taruhan antara tahun 2006 dan 2008. Keduanya dicurigai punya jaringan di Asia yang berhubungan dengan rumah taruhan di Inggris.

"Sistem peringatan dini tidak punya gigi. Aksi pengaturan skor merupakan bisnis yang menggiurkan bagi sejumlah orang untuk memperoleh banyak uang," kata petugas Interpol. "Para oknum itu umumnya berpusat di Asia."

Sejumlah aksi pengaturan skor bola pernah terjadi. Skandal "calciopoli" yang menerjang Juventus menjadi monumen getir bagi sepak bola Italia.

AC Milan, Lazio, dan Fiorentina tidak luput dari skandal itu dengan memanfaatkan wasit yang mudah diajak main kongkalikong. Ujung-ujungnya, Juventus dilorot ke Serie B dan dua gelar Serie A pada 2005 dan 2006 dibatalkan. Tiga klub itu perolehan poinnya dipangkas.

Pada 1993, presiden klub Marseille Bernhard Tapie kedapatan menyuap para pemain  Valenciennes FC di Liga Prancis. Klub itu kemudian diganjar hukuman dari Ligue 1 dan Tapie dikirim ke hotel prodeo.

Di Jerman pada 2005, wasit Robert Hoyzer mengaku telah berhubungan dengan sindikat pengatur skor pertandingan asal Kroasia. Sebanyak 2 juta euro telah diguyur sebagai uang sogok bagi pengaturan skor di divisi dua Jerman, divisi tiga dan Piala Jerman. Hoyzer akhirnya dijebloskan ke penjara.

Di Turki pada 2011, dua orang kedapatan mengatur skor pertandingan dalam pertandingan persahabatan di Turki - Latvia versus Bolovia, dan Latvia versus Bulgaria.

Tujuh gol dijaringkan dalam pertandingan itu, dan semuanya dihasilkan dari tendangan penalti. FIFA akhirnya menjatuhkan hukuman seumur hidup bagi sejumlah pejabat, mereka berasal dari Hungaria dan Bosnia.

Di Turki pada 2012, presiden Fenerbahce, Aziz Yildrim dijatuhi hukuman enam tahun penjara karena melakukan pengaturan skor enam pertandingan dan memberi uang suap kepada para pemain dan pejabat klub. Fenerbahce akhirnya dilarang  sementara ikut Liga Champions pada 2011-2012.

Serangkaian drama pengaturan skor oleh ulah para mafia itu jelas-jelas mencoreng jiwa sportivitas sepak bola. Sepak bola sebagai manifestasi dari "homo ludens" menganut salah satu pandangan klasik Yunani bahwa hidup akan terasa panjang apabila dipenuhi dengan perbuatan bermakna (longa est vita si plena est).

Pengaturan skor dalam sepak bola berkembang merebak dalam budaya global. Nah, kalau sepak bola menyediakan segalanya - dari olah raga sampai hiburan, bahkan kepentingan politik dan ekonomi dan sosial - maka sepak bola dapat diibaratkan sebagai "shopping mall".

Dengan sepak bola, orang dari mana pun dan berasal dari manapun dapat bertemu, berinteraksi bahkan  berjualan. Inilah akar masalah munculnya mafia pengatur skor pertandingan bola.

Pemikir postmodernis, Jean Baudrillard mengakui pentingnya shopping mall, "...karena di sana orang dapat menciptakan musim semi terus menerus, dengan demikian orang menjadi budak dari waktu. Mall, dapat diakses setiap hari dalam sepekan, dari siang sampai malam."

Sama halnya, dengan sepak bola, kini orang dapat menyaksikan tayangan sepak bola dari berbagai liga dunia lewat media elektronik, tanpa mengenal ruang dan waktu. Orang di berbagai belahan dunia manapun dapat menyaksikan kehebatan dari para bintang-bintang bola membela timnya.

Orang menjadi bulan-bulanan dari jadwal liga sepak bola, dengan kata lain orang menjadi budak dari waktu tayangan bola.

Baudrillard menyama-nyamakan shopping mall sebagai "tempat ibadah baru", bahkan dapat disebut sebagai "neraka" bagi masyarakat modern yang menjadikan konsumsi sebagai tuhan-tuhan yang baru. "Aku mengonsumsi, maka aku ada". "Aku menyaksikan tayangan sepak bola, maka aku ada".

Laga demi laga sepak bola dijual untuk dikonsumsi habis-habisan oleh mereka yang telah menjadi budak dari tayangan demi tayangan media. Dalam situasi seperti inilah, mafia bola gentayangan bak hantu di taman kayangan bernama sepak bola global.

Nah, dalam lingkup serba konsumtif seperti inilah, aksi mafia pengaturan skor merebak tumbuh subur di laga bola. Karena sepak bola telah menjadi komoditas, maka pengaturan skor muncul karena di sana bertemu antara pembeli dan penjual dalam ruang besar bernama "shopping mall".

Dan media cetak dan elektronik ikut menjadi dayang dari permaisuri bernama hasrat konsumtif masyarakat penggila bola. Ungkapan khas Betawi, "Ente jual, ane beli."

Dan publik pecinta bola global senantiasa berseru, "semoga hal itu jauh dari kami" (longe absit). Dan pujangga Plautus menegaskan, apa yang diperoleh dengan cara yang jahat, akan hancur menyengsarakan (male parta male dilabuntur).

Sumber : rosianto.com

Donderdag 27 Desember 2012

4 Klub Sepakbola Asing Milik Pengusaha Indonesia

1. DC UNITED
Berdiri : 1996
Alamat : 2400 East Capitol Street, SE United States
Telepon : (202) 587-5000
Laman Resmi : dcunited.mlsnet.com
Nicknames : Red & Black, the Eagles
Stadium : RFK Memorial Stadium, Washington, DC
11 Juli 2012, klub yang bermarkas di Washington itu memperkenalkan investor baru salah satu diantaranya Erick Thohir, pengusaha asal Indonesia. Sebelumnya, Erick Thohir juga sudah mengelola tim basket Satria Muda, Indonesia Warriors, dan membeli sebagian saham klub NBA Philadelphia 76ers.
Erick Thohir membeli saham klub Liga Sepakbola Amerika Serikat (MLS), DC United bukan tanpa alasan kuat. Saat membeli klub NBA, Philadelphia 76ers, Erick berpegang kepada faktor sejarah. Faktor itu pula ditambah faktor kesuksesan menjadi acuannya saat membeli saham DC United.

United meraih MLS Cup pada 1996, 1997, 1999 dan 2004. Pengoleksi gelar terbanyak MLS berikutnya yakni klub David Beckham, Los Angeles Galaxy sebanyak tiga kali (2002, 2005 dan 2011).

Erick kini menjadi figur penting DC United setelah menguasai saham klub yang bermarkas di RFK Stadium itu. Ia berharap bisa memajukan sisi bisnis klub berjuluk Hitam Merah ini sekaligus memberikan sumbangsih kepada sepakbola Indonesia.

"Sebenarnya yang lebih utama, saya harap dari pembelian DC United ini bisa membuat Indonesia bangga. Peluang untuk membawa pemain Indonesia ke klub ini sangat besar. Pemilik lain juga sudah sepakat soal ini.", ucap Thohir.

2. Brisbane Roar
Brisbane Roar Football Club (Sebelumnya Queensland Roar Football Club) merupakan klub dari Brisbane, Queensland, Australia yang bersaing dalam kompetisi A-League Hyundai nasional. Klub yang bermarkas di Suncorp Stadium ini 100% sahamnya telah dimiliki oleh Bakrie Group yang kemudian menunjuk Dali Tahir sebagai Chairman klub tersebut.


"Ini adalah langkah signifikan untuk Hyundai A-League dengan Brisbane Roar menjadi tim profesional Australia pertama yang memiliki pemilik dari Asia," ucap Ketua Hyundai A-League, Lyall Gorman.
"Kami bisa melihat berbagai kesempatan menarik di masa depan untuk Roar dan sepakbola Australia di bawah kerjasama dengan Grup Bakrie ini, yang mana punya banyak investasi sepakbola di Asia, Eropa, Amerika Selatan, dan kini Australia."
"Yang paling penting, Grup Bakrie dipenuhi orang-orang yang sangat mencintai sepakbola. Mereka akan memberikan masukan ide serta pemahaman baru terhadap kompetisi nasional kami," tukas Gorman.
Info lebih lengkap mengenai klub ini -> Brisbane Roar

3. CS Vise
CS Vise saat ini berlaga di kompetisi level kedua di Liga Belgia. Mereka dijuluki Les Oies (angsa), setelah nama julukan kota Visé. Klub yang berdiri sejak tahun 1924 ini dikuasai Bakrie Grup sejak bulan April 2011 dan bertahan hingga saat ini. Mereka menunjuk putra sulung Nirwan Dermawan Bakrie yang punya nama lengkap Andika Nuraga Bakrie atau yang lebih dikenal sebagai Aga Bakrie sebagai presiden klub tersebut.
Sejak menguasai klub yang bernama lengkap Royal Cercle Sportif Visetois ini, Bakrie Grup memang menargetkan untuk menjadikan CS Vise beraroma Indonesia dengan cara merekrut para putra terbaik bangsa di bidang sepak bola. Dari 29 pemain yang di daftarkan oleh CS Vise untuk mengikuti kompetisi Liga Belgia, lima orang di antaranya berasal dari negeri kepulauan ini, Indonesia. CS Vise bermarkas di Stade de la cité de l'oie, Kota Visé di provinsi Liège Belgia dan salah satu tribun di stadion itu bernama Roosniah Bakrie.

4. Deportivo Indonesia

Deportivo Indonesia atau yang sebelumnya bernama Sociedad Anónima Deportiva (SAD) Indonesia merupakan salah satu wadah bagi para talenta muda dalam menempa diri menjadi pemain profesional.
Deportivo Indonesia dibentuk pada Agustus 2007 lalu. Beberapa jebolan SAD mulai meniti karir di klub-klub yang berada di luar negeri. Seperti Chile, Belgia dan tentunya Uruguay.

Awalnya, program pembinaan usia muda ini berada di bawah PSSI. Namun seiring perjalanan waktu, Deportivo Indonesia kini dikelola oleh perusahaan Pelita Jaya Cronus milik keluarga Bakrie.

Menurut Project Manager SAD Indonesia, Demis A Djamaoeddin, pemain yang terpilih untuk mengikuti program ini merupakan hasil seleksi yang dilakukan oleh pelatih kepala asal Uruguay, Cesar Payovich. Dia dibantu oleh dua asistennya, Wilson Espina, dan Jorge Anania.

Asisten manajer Sociedad Anónima Deportiva (SAD) Indonesia-Uruguay Yeyen Tumena mengatakan, setiap tahunnya 40 anak berbakat di Indonesia rutin berkesempatan untuk dikirim mengikuti SAD Indonesia-Uruguay.
SAD Indonesia terbagi dalam dua tim, yakni U-17 di Liga Uruguay Quinta Division dan U-19 di Quarta Division.

Meski ditempa menjadi pemain profesional, para pemain tidak lantas meninggalkan pendidikan formalnya. Sebaliknya, manajamen SAD telah bekerjasama dengan sekolah atlet Ragunan. Masuknya tiga kali seminggu. Anak-anak SMP dan SMA setiap tahun dikirimi guru untuk ujian. Kenaikan kelas dan rapot para pemain serta ijazah kelulusan, semuanya dari Ragunan. Selain itu, selama di Uruguay, para pemain juga mendapat kesempatan untuk kursus bahasa dan komputer.




Sumber : sibukforever.blogspot.com

Saterdag 15 Desember 2012

Karikatur: Bawa Lari Gawangnya

Tidak ingin kebobolan? Ingin gawang tetap aman? Inilah cara alternatif yang bisa dilakukan: bawa lari gawangnya! Sebuah karya karikatur artistik nan menggelitik dari Zapiro (GPSA.co.za).




Sumber : http://blog.sepaxbola.info/2012/09/karikatur-sepakbola-bawa-lari-gawang.html

Tahukah Kamu?

Berdiri lama tanpa menekuk lutuk sama sekali akan membuat kita pingsan

Donderdag 06 Desember 2012

Pesan Terakhir Diego Mendieta Sebelum Meninggal

Diego Mendieta atau akrab disebut Diego menghembuskan nafas terakhir pada Selasa (4/12/2012) dinihari WIB di RS Dr Muwardi. Diego yang sbelumnya di rawat di RS Islam Surakarta Yarsis dan RS PKU Muhammadiyah ini terpaksa pulang karena tidak ada biaya.

Kabarnya Diego tak punya uang karena gaji selama empat bulan dan uang muka kontrak yang menjadi haknya dikabarkan belum dibayarkan oleh pihak klub.

Diego menyumbang 8 gol untuk Laskar Sambernyawa musim lalu dikabarkan menderita virus Cylomegalo terdeteksi telah menyerang mata hingga otak. Selain itu, jamur Candidiasis telah menyerang kerongkongan dan saluran pencernaan . Sebelum di bawa ke Rumah Sakit Diego mengeluh tidak enak badan, kepala pusing, dan sering muntah.

Diego menempati Kamar nomor 8 di lantai satu sebuah kos di Kampung Kalitan, Solo,.Untuk tinggal di dalam kamar ukuran 4 x 3,5 meter tersebut, Mendieta seharusnya membayar Rp 1.150.000 per bulan. Namun dia harus menunggak bayaran untuk beberapa bulan terakhir, karena kondisi keuangannya. Dia juga kesulitan memperpanjang visa dan KITAS (Kartu Izin Tinggal Sementara), karena tidak mampu membayar perpanjangannya.

Hari ini Rabu (5/12/2012) Diego diberangkatkan untuk dimakamkan di negara asalnya Paraguay. Sebelum meninggal, Diego Mendieta mengaku ingin pulang ke Paraguay untuk menjenguk istri dan ketiga anaknya yang masih kecil.

Pesan Terakhir Diego Mendieta : 
Gak minta gaji Full
Aku
Cuma minta tiket pesawat
Biar bisa pulang
Ketemu MAMAH
Dan
Mati di negara saya
RIP#Diego Mendieta


Sumber : http://www.kaskus.co.id/thread/50bf0ed71b7608a24400000c

Tahukah Kamu?
Sehelai rambut di kepala kita mempunyai masa tumbuh 2 sampai 6 tahun sebelum diganti dengan rambut baru

Woensdag 05 Desember 2012

10 Akademi SepakBola Terbaik di Dunia

 1. Calissta
Real Madrid memiliki salah satu akademi terbaik di dunia. Lulusan Akademi Madrid sebenarnya memiliki kualitas yang bagus, namun mereka jarang mendapat tempat di tim utama Los Blancos.
Kebijakan Real Madrid yang lebih memercayai pemain bintang hasil pembelian dari klub lain membuat peluang pemain lulusan Castilla untuk memperkuat tim utama menjadi sangat kecil. Tetapi dari sisi kualitas pemain lulusan Castilla sebenarnya bisa disandingkan dengan akademi terbaik dunia lainnya.
Alumni: Arbeloa, Rafa Benitez, Butragueno, Casillas, Cambiasso, Santiago Canizares, Guti, Javi Garcia, Juan Mata, Raul, Soldado.

2. Santos
Santos adalah salah satu kekuatan terbesar di Amerika Selatan. Akademi Santos memiliki kebiasaan untuk mengorbitkan pemain-pemain berkualitas dunia.
Seperti halnya klub-klub Brasil yang lain, Santos juga menjadi penyuplai pemain hebat bagi klub-klub besar Eropa. Meski selalu ditinggal para bintangnya, Santos seperti tak pernah berhenti mendapatkan pemain muda baru kaya potensi.
Alumni: Pele, Pita, Juary, Robinho, Leo, Giovani, Ganso, Neymar.

3. The Academy of Football
West Ham cenderung sering terlupakan ketika berbicara mengenai pengembangan pemain muda. Alasannya jelas, Para pemain binaan West Ham banyak direbut klub-klub besar ketika mulai menunjukkan bakatnya.
Sejak didirikan pada dekade 50-an oleh manajer Ted Fenton, The Academy telah berhasil menelorkan banyak pemain muda berkualitas di Inggris.
Alumni: Rio Ferdinand, Frank Lampard, Michael Carrick, Joe Cole, Glen Johnson, Jermain Defoe.

4. Gremio
Gremio adalah klub besar Brasil yang punya tradisi menghasilkan talenta kelas dunia. Secara umum, klub-klub Brasil memang ahlinya dalam mengembangkan pemain muda menjadi pemain besar berprestasi.
Namun Gremio menonjol karena telah diakui secara resmi sebagai klub yang memiliki akademi terbaik di Brasil. Pengakuan ini pun datangnya dari CBF (Federasi Sepakbola Brasil).
Alumni: Ronaldinho, Anderson, Lucas Leiva, Eduardo Costa, Lucio, Emerson, Gerson, Ailton.

5. El Semillero
Nama Argentinos Junior mungkin tak banyak anda dengar, atau malah belum pernah anda dengar sama sekali. Tetapi klub kecil asal Argentina ini memiliki tradisi menghasilkan bakat-bakat besar sepakbola.
Akademi El Semillero memiliki reputasi yang bagus dalam hal pembinaan pemain muda. Sayang, ketika sudah ‘jadi’, para pemain itu banyak yang pindah ke klub sekota Argentinos Juniors, River Plate dan Boca Juniors.
Alumni: Diego Maradona, Juan Riquelme, Cambiasso, Coloccini, Sergio Batista, Fernando Redondo, Juan Pablo SorinJose Pekerman.

6. Arsenal Academy
Arsenal Academy mungkin lebih dikenal karena bisa mengembangkan bakat pemain muda yang mereka dapat dari klub lain. Dengan dipimpin Arsene Wenger, Arsenal Academy bisa menyuplai kebutuhan pemain-pemain kelas atas yang dibutuhkan The Gunners.
Arsenal Academy dikenal lebih mementingkan kualitas ketimbang kuantitas. Hasilnya memang membuktikan bhawa lulusan mereka banyak yang mampu berprestasi. Sayang sekali Arsenal juga hobi menjual pemain-pemain terbaik mereka.
Alumni : Ashley Cole, Gael Clichy, Jack Wilshere, Alex Song, Nickals Bendtner, Ray Parlour, Paul Merson, Tony Adams.

7. Sporting Academy Alochete
Jika melihat beberapa pemain terbaik Portugal, baik di masa lalu hingga saat ini, banyak di antara mereka yang berasal dari Sporting PUMA Academy.
Akademi milik Sporting CP ini terletak di daerah bernama Alochete. Andai bisa mempertahankan pemain-pemain terbaiknya, tak msutahil Sporting akan mampu berbicara banyak, tak hanya di tingkat nasional, tapi juga Eropa.
Alumni: Cristiano Ronaldo, Quaresma, Nani, Moutinho, Luis Figo, Simao, Miguel Veloso, Nuno Valente.

8. Manchester United Academy
Akademi milik Manchester United kini telah memiliki tradisi untuk menelorkan pemain-pemain hebat kelas atas. Sebagian besar kesuksesan akademi ini diprakarsai oleh Sir Alex Ferguson. Sejak menangani United, Sir Alex sangat memercayai bakat muda klubnya.
Kepercayaan itu terbayar tuntas ketika Class of ’92 menjadi pilar utama United ketika meraih treble winners pada 2009. Kemampuan Fergie mengkombinasikan pemain lulusan akademi dengan pemain hasil transfer telah memberikan kesuksesan besar bagi Setan Merah.
Alumni: Charlton, Hughes, Beckham, Giggs, Scholes, Neville bersaudara, Nicky Butt, Cleverley.

9. De Toekomst
Ajax pernah merajai Eropa dengan pemain-pemain berbakat yang mereka hasilkan. Tetapi di era modern, Ajax memiliki kesulitan untuk mempertahankan para pemain berbakat yang mereka kembangkan.
Akademi De Toekomst (yang berarti Masa Depan) telah menghasilkan banyak pemain hebat yang menghiasi lapangan hijau dunia. De Toekomst punya dasar sepakbola khas Belanda; Total Football.
Alumni: Johann Cruyff, Wesley Sneijder, Van der Vaart, Suarez, Van der Sar, Vermaelen, Bergkamp, Vertonghen.

10. La Masia
Sudah tak perlu diragukan lagi, La Masia adalah akademi sepakbola terbaik saat ini. Sebagai penyuplai pemain bagi Barcelona FC, La Masia mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Bukti yang paling jelas adalah ketika pada 2010, tiga finalis Ballon d’Or berasal dari La Masia: Messi, Iniesta dan Xavi.
Selain hebat dalam mengembangkan bakat pemain, La Masia juga punya kebijakan bagus soal pendidikan pesertanya. Banyak akademi yang mengharuskan para pesertanya untuk berhenti sekolah pada usia 15 tahun agar fokus ke sepakbola. Di La Masia, para peserta diwajibkan mengikuti pendidikan dengan baik. Akan ada ‘penalti’ jika mendapatkan nilai bagus di bidang akademik.
Alumni: Josep Guardiola, Xavi, Iniesta, Messi, Pedro, Puyol, Pique, Fabregas, Arteta, Thiago Alcantara, Cuenca.

Sumber

Tahukah Kamu?
Sampai usia 6 bulan, bayi bisa menelan dan bernapas secara bersamaan. Orang dewasa tidak bisa

Donderdag 18 Oktober 2012

7 Pemain Sepakbola Wanita Tercantik Di Dunia

 Sepakbola bukan hanya sekedar permainan kaum Adam saja, kaum Hawa pun ikut andil dalam permainan sepakbola. Berikut adalah 7 Pemain Sepak Bola Wanita Tercantik, para pemain sepakbola wanita yang mempunyai predikat seksi, yaitu :

1. Leslie Osborne
 Leslie Osborne adalah pemain bertahan untuk klub sepak bola wanita profesional BostonBreakers. Ia juga anggota timnas AS.

2. Anouk Hoogendijk
 Gadis pirang dan cantik tidak punya kemampuan apa-apa? Anouk Hoogendijk membuktikan Anda salah! Ia bermain untuk timnas Belanda di usia 19 tahun dan kini, di usia 26 tahun, ia bermain untuk tim Belanda, FC Utrecht.

3. Tina DiMartino
 Tina DiMartino sangat istimewa. Saat kuliah di UCLA, ia satu-satunya anak tingkat pertama yang bermain di semua 26 pertandingan untuk Bruins, mencetak lima gol. Kreativitasnya di lapangan sering dipuji dan ia juga dikenal sebagai penyerang terbaik di liga wanita kampus. Ia kini bermain untuk timnas AS.

4. Jessica Landstrom
 Anda bisa memanggil Jessica Landstrom sebagai Henrik Larsson-nya sepak bola wanita Swedia. Ia setinggi 1,8 meter, mencetak gol pertama untuk timnas Swedia di pertandingan pertama di usia 23 tahun, cantik dan berbakat!

5. Sylvia Arnold
 Di usianya yang ke-21, Sylvia Arnold sudah punya pencapaian yang menakjubkan. Ia menjadi bagian dari timnas Jerman U-20, dan membuat takjub di Piala Dunia U-20 tahun 2010 sehingga dipromosikan masuk timnas senior. Yang paling menyenangkan: ia punya saudara kembar, sama cantiknya, dan sama berbakatnya!

6. Amy Rodriguez
 Sebelum Amy Rodriguez mendominasi liga profesional wanita internasional, ia masuk timnas AS di usia 18 tahun. Amy dua kali menjadi pemain All-American dan Gatoradetahun ini di masa kuliahnya.

7. Rachel Unitt
Rachel Unitt sering disebut sebagai pemain bola Inggris paling ngetop, dan mudah terlihat mengapa. Ia atlet Inggris yang cantik, berbakat, pernah jadi Nationwide International Player of the Year di FA Women’s Football Awards 2004, dan menang lagi di tahun 2006.

Sumber







Maandag 10 September 2012

Sejarah dan Asal Usul Sarung Tangan Kiper

Bagaimana awal mula sarung tangan kiper? Menurut catatan Kantor Hak Paten Jerman, adalah seorang Inggris bernama William Sykes adalah orang pertama yang mendaftarkan hak paten atas sarung tangan kiper. Ini terjadi tahun 1885. Bahan yang terdapat pada sarung tangan kiper waktu itu hanyalah lapisan karet dari India.

Ironisnya, di tahun 60 hingga 70an, banyak kiper dari negara William Sykes yang kurang mengapresiasi sarung tangan. Kiper yang melindungi tangannya dengan aksesoris apapun dianggap penakut. Penjaga gawang legendaris seperti Peter Shilton, Gordon Banks, dan Ray Clemence lebih percaya diri bila menahan bola dengan tangan kosong. Luar biasa bukan?

Adalah hal yang aneh bila anda, penikmat sepakbola antara tahun 1960 hingga 70an, tidak pernah melihat seorang kiper yang meringis kesakitan karena tangannya serasa terbakar oleh tendangan keras lawan. Itu adalah jaman ketika pria adalah pria.

Beruntung, manusia punya teknologi. Hari-hari kelam para kiper yang tangannya kesakitan akhirnya berakhir sudah. Para produsen sarung tangan kiper telah melakukan berbagai inovasi selama 40 tahun lebih demi kenyamanan penjaga gawang. Seorang kiper hanya perlu mengkhawatirkan ukuran sarung tangan yang pas dan nyaman. Bahkan, tersedia sarung tangan yang khusus didesain hanya untuk latihan atau pertandingan saja.

Namun, selalu ada saja pertentangan. Mantan penjaga gawang Everton, Neville Southall, pernah mengatakan, “Saya benci sarung tangan modern. Desainnya terlalu besar dan tebal hingga susah bagi kiper merasakan bola. Seperti mengendarai mobil dengan memakai sarung tangan.”

Di era yang serba mudah ini, penjaga gawang tidak akan meninggalkan ruang ganti tanpa membawa tiga pasang sarung tangan dan perlengkapan lainnya. Kreasi dan inovasi teknologi sarung tangan kiper membantu mengembangkan teknik-teknik dasar dalam menjaga gawang. Para produsen berlomba menciptakan sarung tangan yang lebih aman bagi para penjaga gawang. Salah satunya adalah perlindungan untuk jari-jari supaya tidak tertarik ke belakang ketika menahan bola.

Saat ini ada berbagai jenis sarung tangan kiper yang menyesuaikan berbagai kondisi di lapangan. Pilihan sarung tangan yang tepat akan memberi kenyamanan. Kiper-pun akan lebih fokus mengamankan gawangnya.

Sumber

Tahukah Kamu?
Permen karet tidak dijual di Disney Land

Vrydag 10 Augustus 2012

Top 10 Orang Terkaya Pemilik Club Sepakbola

Harta sepuluh pemilik klub bola terkaya di dunia melonjak US$36 miliar dibandingkan tahun lalu. Namun, kenaikan kekayaan mereka tidak terkait dengan klub bola. Harta mereka lebih berasal dari kenaikan harga komoditas, serta pulihnya bursa saham di tingkat dunia.

Mereka adalah para taipan yang menguasai bisnis menguntungkan di dunia, mulai dari baja, media dan fashion. Mereka juga banyak berinvestasi di komoditas seperti baja, minyak dan tambang lainnya. Sebut saja misalnya Lakshmi Mittal. Kekayaan miliarder asal India ini meningkat US$9,4 miliar dari tahun lalu menjadi US$28,7 miliar.

Lantas, siapa saja mereka?
Berikut ini daftar miliarder pemilik klub bola ternama di dunia seperti ditulis Forbes.

1. Lakshmi Mittal
Kekayaan: US$28,7 miliar
Klub: Queen's Park Rangers

Lakshmi adalah warga Inggris kelahiran India yang mengendalikan ArcelorMittal, produsen baja terbesar dunia dengan penjualan US$65 miliar dalam setahun. Mittal membeli 20 persen saham di Queens Park Rangers (QPR) pada 2007. Prestasi tertinggi klub ini, finalis Piala FA. Pemegang saham utama QPR, lebih dari 60 persen adalah bos Formula One, yakni Bernie Ecclestone.

2. Amancio Ortega
Harta: US$25 miliar
Klub: Deportivo La Coruna De

Ortega, dikenal sebagai raja fashion sekaligus pendiri raksasa ritel Spanyol, Inditex dikenal sebagai salah satu orang kaya papan atas dunia. Klub bolanya juga berada di peringkat sembilan di La Liga. Dengan peringkat yang masih jauh ketimbang Real Madrid dan Barcelona, manajemen klub menekankan perlunya membangun stadion baru agar bisa kompetitif dengan para pesaing.

3. Paul Allen
Harta: US$13,5 miliar
Klub: Seattle Sounders

Pendiri Micorsoft, Paul Allen melalui Vulcan Sports & Entertainment bergabung sebagai pemilik Seattle Sounders pada 2007. Klub bola ini juga dimiliki oleh produser film Joe Roth, pengusaha Adrian Hanauer dan Drew Carey. Sounders menyelesaikan musim pertandingan 2009 di Liga Amerika Serikat dengan meraih rekor kemenangan.

4. Roman Abramovich
Harta: US$11,2 miliar
Klub: Chelsea

Dua tahun lalu, harta Roman Abramovich penguasa komoditas Rusia sempat menurun akibat penurunan harga. Namun, tahun lalu kembali pulih seiring dengan lonjakan harga baja dunia. Namun, kondisi berbeda terjadi pada klub bola miliknya. Chelsea menderita kerugian US$73 juta tahun lalu. Meski The Blues sukses di Liga Primer sejak kedatangan Abramovich, namun keuangan Chelsea kerap mengalami kerugian.

5. Silvio Berlusconi
Harta: US$9 miliar
Klub: AC Milan

Perdana Menteri Italia, sekaligus konglomerat media ini tersengat dalam tuduhan korupsi, skandal seks hingga pernah dijahar dengan patung di kota Milan. Meski begitu, kekayaannya meningkat 20 persen tahun lalu berkah dari investasinya di Mediaset dan Mediolanum. AC Milan merupakan klub bergengsi di Italia, sekaligus dihuni oleh para pemain bintang bola dunia.

6. Francois Pinault
Harta: US$8,7 miliar
Klub: Stade Rennais (Rennes)

Francois Pinault dikenal sebagai pendiri grup PPR yang membangun merek-merek barang mewah. Sebut saja misalnya Gucci dan Balenciaga, dua merek terkenal yang berada di bawah kendali PPR. Dia menggunakan klub olahraga untuk mempromosikan produk olahraga besutan PPR, yakni Puma.

7. John Fredriksen
Harta: US$7,7 miliar
Klub: Valerenga

John Fredriksen, sosok yang begitu dikenal dalam dua sisi, sebagai raja perkapalan dan tanker minyak, sekaligus dikenal sebagai pengusaha yang menghindari pajak. Fredriksen menjadi warga negara Cyprus pada 2006 untuk menghindari pajak dari Norwegia. Fredriksen juga pernah dikabarkan menolak tawaran Roman Abramovich yang berniat membeli rumahnya di London senilai US$200 juta pada 2006.

8. Alisher Usmanov
Harta: US$7,2 miliar
Klub: Arsenal

Usmanov, namanya melambung sebagai pengusaha baja dan telekomunikasi. Selama tiga tahun dia bersaing dengan pengusaha Amerika, E. Stanley Kroenke untuk mengendalikan Arsenal. Namun, Kroenke muncul sebagai pemenang dengan memiliki 29,9 persen saham Arsenal ketimbang Usmanov yang memegang 26,3 persen. Nilai klub Arsenal tahun lalu turun 2 persen menjadi US$1,18 miliar.

9. Philip Anschutz
Harta: US$6 miliar
Klub: Los Angeles Galaxy, Houston Dynamo, Hammarby

Mewarisi perusahaan pengeboran minyak Amerika, Anschutz mengembangkan portofolio investasinya ke bursa saham, real estat, kereta api hingga bisnis hiburan. Dia dikenal sebagai pendiri Major League Soccer (MLS) di Amerika, sekaligus sebagai pemilik beberapa klub bola, seperti LA Galaxy, Chicago Fire, Houston Dynamo, hingga klub bola Swedia Hammaraby.

10. Bernard Ecclestone
Harta: US$4 miliar
Klub: Queen's Park Rangers (QPR)

Ecclestone yang dikenal sebagai Presiden dan CEO Formula One sempat menjadi gunjingan media massa dalam beberapa tahun terakhir terkait dugaan skandal seks dan anti Semitisme. Dia juga berupaya menghindari terjadinya perpecahan di Formula One setelah tim ternama seperti Ferrari mengancam hengkang. Prestasi tertinggi klub ini, finalis Piala FA.

Sumber

Tahukah Kamu?
Lobster dapat hidup selama 100 tahun